Kamis, 20 Juni 2019

Cinta Terhalang Cinta



 Apakah kau ingat? Saat kita duduk berdua menghabiskan sore hingga malam bersama di salah satu kafe yang terletak  di  tengah kota pematangsiantar.  Senja jingga berubah menjadi gelap malam, tapi tidak gulita. Sinar bulan dan bintang bersinar terang malam itu. Lampu-lampu kafe juga menyala indah memberikan suasana ketenangan di antara kita berdua.
Tentang kenangan hari itu, aku masih ingat. Kenangan itu masih lekat teringat dalam ingatanku. Bahkan terkadang aku merasa kenangan itu baru kemarin terjadi. Terlalu mengada-ada, bukan?
Saat itu, kau memesan coklat panas pada pelayan kafe. Ketidak tahuanmu tentang kopi membuatmu enggan memesan deretan menu minuman yang mengandung biji kopi asli. Kau memilih menu yang tak asing di lidahmu. Dan coklat panas menjadi pilihanmu hari itu. Sedangkan aku, yang sedikit banyaknya baru tau tentang kopi, memesan segelas kopi tanpa gula, untuk membuat tubuhku rileks dari lelahnya  hari itu.
Aku benar-benar senang. Aku senang bisa menghabiskan waktu berdua bersamamu. Di mana kita berdua saling bicara, saling cerita, saling bercanda dan tertawa bersama-sama. Apa yang kita bicarakan malam itu begitu banyak macamnya. Mulai dari percakapan sederhana hingga percakapan yang berat tentang masa depan kita berdua.
Bukan, bukan masa depan sebagaimana dua insan berbeda jenis menjalin hubungan. Tapi lebih pada bagaimana kita berdua berkolaborasi dengan latar belakang yang kita miliki untuk menciptakan sesuatu yang nantinya akan membantu banyak orang.
Saat kita berbincang dengan topik ini pertama kali, responmu benar-benar baik dan sangat antusias dengan ide yang aku bicarakan padamu. Tapi malam itu adalah malam keraguanmu dengan ide yang akan kita realisasikan bersama. Kau ragu karena kekasihmu itu tak memberi restu untuk kita bersama-sama merealisasikannya. Kau mengaku, kekasihmu sepertinya cemburu.
Hubungan kita benar-benar rumit, bukan?
Ya, aku tak begitu senang sebetulnya. Kau tau kenapa? karena aku memiliki rasa padamu. Memang, usiamu lebih tua daripada aku, tapi hanya karena usia yang berbeda bukan berarti menghambat cinta yang tumbuh tanpa dipinta, bukan? Aku jatuh cinta padamu bukan karena aku pengidap odipus complex. Aku jatuh cinta padamu karena aku merasa nyaman denganmu. Rasa nyaman itu bukan nyaman seperti seorang anak pada ibunya, tapi, rasa nyaman sebagaimana seorang laki-laki membutuhkan penyemangat agar dirinya terus hidup. Kenyamanan yang menimbulkan semangat dan alasan untuk terus bertarung dengan dunia hingga nantinya masa berlaku jasad kita telah habis tiba.
Sore jingga berubah menjadi gelap malam. Orang-orang disekitar mulai berganti. Tempat itu tetap ramai dan penuh, tidak sepi.
Aku tak memperdulikan siapa yang menatap kita dari kejauhan. Yang aku perdulikan malam itu, dirimu. Ini adalah kesempatan yang langka, yang bisa saja di lain waktu aku takkan mungkin mendapatkannya lagi. Dan aku takkan sia-siakan kesempatan ini. Aku selalu menginginkan kita berbincang berdua di sebuah kafe.
Kau tau, kafe yang kita kunjungi hari itu adalah kafe langgananku. Tempat aku mencari ketenangan dan kebahagiaan seorang diri. Tempat aku menghilangkan rasa lelah dari aktifitas yang meletihkan jasad dan hati. Aku sering menghabiskan malam seorang diri di sana. Dan kau, adalah wanita pertama yang aku ajak berbincang menghabiskan malam berdua di sana.
Kau senang? menjadi wanita pertama yang aku ajak kencan di kafe itu?
Aku rasa tidak. Karena aku sadar diri, aku bukan siapa-siapa bagimu. Aku hanya sebatas adik kecil lugu yang tak tau apa-apa tentang dunia. Bukan kah kau menganggapku begitu?
Malam itu, aku merasa senang luar biasa.
Aku memandangmu dengan penuh cinta, sedangkan dirimu memandangku biasa saja. Hatiku dan pikiranku telah dipenuhi olehmu, dan kamu tidak pernah atau mungkin belum menyadari hal itu.
Tapi, malam itu kau sempat berkata, terkait kolaborasi yang akan kita realisasikan bersama, “Jangan bawa perasaan saat kita berkolaborasi nanti”.  Itu kau ucapkan saat ragumu hilang. Kau akan bertarung opini dengan kekasihmu untuk memenangkan dan melancarkan kolaborasi kita. Malam itu, aku hanya mengangguk. Kau tau, anggukan itu tidak mengandung arti apa-apa. Anggukan itu bukan berarti iya, anggukan itu hanya sekedar gerakan kepalaku yang membutuhkan gerak agar tak kaku.
Aku sudah punya rasa padamu.

Rabu, 17 Oktober 2018

Cerita Dibalik PILEG 2019


Pemilu tinggal menunggu waktu,tetapi mereka sudah bermunculan. Mereka menempel di atas spanduk di simpang-simpang jalan, di belakang kaca angkot; di banyak media dan tempat lainnya tersebar pamplet yang bergambar setiap calon . Hingar bingar pesta demokrasi tak syak lagi akan berdegung kencang.

Dengan jangka waktu kampanye yang terhitung singkat , rakyat kesulitan mengenal mereka satu per satu. Apalagi kalau mereka adalah orang yang baru muncul, yang sebelumnya tak pernah dekat dengan rakyat, dengan cara apa memperkenalkan diri secara utuh dan penuh? Paling minimum rakyat hanya mengenal nama, visi dan misi, default plan untuk lima tahun ke depan; tanpa tahu bagaimana kesehariannya, apakah ia termasuk orang jujur atau pembohong, apakah ia rajin beribadah atau penuh maksiat, apakah ia sungguh-sungguh ingin menjadi pemimpin untuk mereka atau  ambisi pribadi semata.

Maka, masa kampanye itu dijadikan momentum promosi diri (self-promotion). Berlomba-lomba membangun citra seindah dan semenarik mungkin, untuk menggaet simpati rakyat. Calon yang tak biasa pakai kopiah dan baju koko, tiba-tiba mengenakannya dengan tingkah yang begitu religius. Calon yang biasa tak bicara, secara mendadak menghapal teks pidato yang sudah disiapkan tim, mengucapkannya dengan penuh percaya diri. Kalau bisa, hapalkan satu atau dua hadis Nabi, karena sebagian rakyat ada yang suka dengan calon yang religius. Dan seterusnya.

Begitulah calon-calon memperkenalkan diri mendekati Pemilu. Ibarat barang, mereka harus dibungkus sebaik mungkin supaya terlihat pantas dan cocok menjadi pemimpin. Mereka diiklankan di berbagai media massa, melalu pamplet-pamplet, spanduk, mirip produk pasta gigi atau simcard yang dipajang di tepi jalan raya. Bahkan ada yang spanduknya berdekatan dengan gambar produk minuman. Tapi tentu saja, mereka bukan "barang dagangan".

Kalau saya ibaratkan, rakyat memilih calon yang tak dikenalnya seperti ketika mereka percaya kepada Nabi Muhammad SAW. Apa yang mendorong mereka untuk tetap percaya kepada Nabi padahal belum pernah bertemu? Jawabannya adalah "iman". Menurut Kiekeegard misalnya, iman adalah dimensi yang tak perlu diakal-akali, cukup percaya saja. Walaupun analogi ini tidak sepenuhnya cocok, karena ratusan buku tentang biografi Nabi bisa diakses baik dari dalam atau luar negri. Sehingga tanpa bertatap wajah pun, kita bisa mengenalnya dengan baik melalui catatan sejarah.

Nah, sekarang, apa yang menggerakkan hati rakyat untuk tetap menaruh pilihan pada calon tertentu meskipun tidak mengenalnya dengan baik? Jawabannya agak sedikit berbeda. Pertama, seperti jawaban sebelumnya: barangkali rakyat percaya atau mengimani calon yang dipilih berdasarkan sedikit informasi yang didapat. Ini semacam bermain lotré, mengadu nasib mereka pada satu nama asing. Tetapi mereka sudah melakukan tugasnya sebagai polis (warga negara) yang demokratis. Tinggal calon yang dipilih, akankah menjadi pengkhianat atas kepercayaan yang diberikan, atau menjadi kesatria yang tidak lupa daratan. Alangkah kejam dan kejinya kalau yang terjadi adalah pengkhianatan, rakyat yang nota-bene hidup penuh harapan dihancurkan oleh satu-dua orang yang dipercaya sanggup mengubah mereka. Maka wajar saja kalau sekali waktu ada semacam "aksi massa" yang berkumpul di jalan raya, mereka punya hak untuk menagih janji dan kepercayaan yang diberi.

Kedua, tidak lain dan tidak bukan adalah karena alasan pragmatis alias politik uang. Mereka terpaksa memilih calon tertentu karena sudah mengantongi dua tiga lembar uang, atau satu kantong makanan pokok. Mereka diikat oleh materi yang diberikan, meskipun mungkin tidak ada kesepakatan politik, tapi sebagai manusia tentu ada balas-budi. Meskipun rakyat bisa berkhianat, dengan memilih yang lain meskipun mereka telah menerima banyak materi. Dalam Leviathan Hobbes, kondisi semacam ini termasuk dari kontrak sosial (Social Contract) dimana setiap orang yang terikat kontrak bersama harus patuh pada kesepakatan, baik secara vulgar atau diam-diam.

Kalau yang terjadi seperti itu, kita sedang menjaring angin. Sekuat apa pun kita ingin menangkap satu gelombang angin, selalu ada celah untuk keluar dari genggaman. Kita kesulitan untuk menentukan, menetapkan dan memilih dengan basis nalar yang baik. Sebab segala sesuatu sudah dalam rekayasa yang tak bisa dibendung, ditahan atau ditolak. Tidak mungkin ada tindakan preventif —dimana itu malah menghancurkan demokrasi.


Rabu, 12 Juli 2017

Cinta beda Agama

Hasil gambar untuk cinta beda agama



Saat cinta merasuk ke jiwa, itu jelas ANUGRAH. Anugrah dari siapa? Anugrah dari YANG KUASA.
Lalu bagaimana jika ada yang saling cinta namun BEDA AGAMA? ..itu TETAP anugrah dari YANG KUASA.
Jika TUHAN mempertemukan, mengapa agama memisahkan? ..lebih spesifiknya, jika TUHAN mempertemukan, mengapa MANUSIA (dengan menggunakan agama) TEGA, RELA dan BANGGA untuk memisahkan?
Maafkan pandangan saya, namun jika saling cinta, JALANKAN walaupun BEDA AGAMA.
Kenapa?
..karena CINTA adalah ANUGRAH. CINTA tidak mengenal PERBEDAAN, karena sifatnya MENYATUKAN, bukan MEMISAHKAN. Yang sifatnya memisahkan adalah KEBENCIAN, PEPERANGAN dan EGO untuk mempertahankan KEYAKINAN.
Seseorang bisa saja ber-argumen bahwa: CINTA yang timbul kepada orang yang beda agama sebenarnya adalah UJIAN dari TUHAN untuk melihat apakah seseorang tersebut lebih memilih NAFSU atau ketaatan akan agamanya.
Namun jika seseorang tersebut TELITI, maka ia akan temukan bahwa CINTA bukanlah NAFSU. Jika memang TUHAN menguji, IA pasti menguji NAFSU, bukan CINTA.
CINTA: “PERASAAN yang kuat untuk MEMBERI, MENGASIHI dan MENYAYANGI”.
NAFSU: “KEINGINAN yang kuat untuk MENGUASAI, MENGAMBIL dan MEMUASKAN DIRI”.
NAFSU MAKAN berbeda dengan CINTA MAKAN. Seseorang yang NAFSU untuk makan memiliki tujuan untuk MEMUASKAN DIRI, sedangkan seseorang yang CINTA makan memiliki tujuan untuk merasakan INDAH nya makan.
Bagaimana mungkin CINTA yang penuh keindahan, kelembutan dan kasih sayang dapat disebut NAFSU?
CINTA adalah ANUGRAH dari YANG KUASA, bukan ujian.
Lalu seseorang juga bisa ber-argumen bahwa: CINTA yang timbul kepada orang yang beda agama sebenarnya adalah ujian dari TUHAN untuk melihat apakah seseorang tersebut lebih memilih TUHAN nya, atau manusia?
Jika teliti, seseorang tersebut akan menemui bahwa TUHAN terlalu besar untuk CEMBURU kepada seorang manusia. IA tidak layak untuk mencemburui seorang manusia. Hanya orang yang AROGAN yang berani berkata bahwa TUHAN cemburu kepada seorang manusia.
Lalu seseorang juga bisa ber-argumen bahwa: Saat seseorang CINTA kepada orang yang beda agama, maka orang tersebut akan MASUK NERAKA.
Jika teliti, seseorang tersebut akan sadar bahwa: hanya TUHAN yang ber-hak menentukan seseorang masuk surga atau neraka. Manusia TIDAK LAYAK untuk menentukan siapa yang masuk surga atau neraka. Jika memang TUHAN tidak mengizinkan dua orang yang berbeda agama untuk saling cinta, IA tentu tidak akan memberikan rasa itu sejak awal.
..dan jika KAMU adalah orang yang bingung akan apa yang harus kamu lakukan saat menghadapi cinta beda agama, maka JALANI SAJA, jangan takut, jangan BANYAK BERFIKIR. NIKMATI rasa itu, NIKMATI anugrah itu.
Lalu bagaimana dengan jenjang pernikahan nanti? ..bukankah sulit untuk menikah jika beda agama? ..bukankah nanti konflik dengan masing-masing keluarga? ..kalau punya anak nanti dia kasihan bingung milih agama!
TENANG, JANGAN TAKUT!
Jika memang CINTA, kalian akan TEMUKAN JALAN. Jika memang JODOH, semua masalah BISA DISELESAIKAN.
Mungkin TUHAN mempertemukan kalian yang berbeda agar kalian bisa belajar untuk saling menghargai.
Mungkin TUHAN mempertemukan kalian yang berbeda agar kalian bisa jadi inspirasi.
Mungkin TUHAN mempertemukan kalian yang berbeda hanya untuk sementara agar kalian bisa belajar dari pengalaman.
Apapun itu, CINTA adalah ANUGRAH.
HARGAI, JALANI, NIKMATI.
-RF- (http://ronaldtalks.com)

Senin, 19 Juni 2017

Diam, Kecewa

Photo by Roman Drits / http://barnimages.com/

Teruntuk mereka yang suka menyembunyikan perasaannya dari seseorang yang dicintainya. Tenanglah dan persiapkan hatimu untuk merasakan luka yang akan kau rasakan.
Cinta dalam diam itu sangat beresiko. Satu sisi, itu memang baik untuk di jalani. Bisa lihat dari contoh kisah Sayyidina Ali dan Fatimah putri Rasulullah. Meski belum jelas kebenaran cerita itu. Tapi, cerita itu benar-benar bagus untuk dibaca mereka yang tidak bisa mengungkapkan rasa.
Mereka hanya bermain dalam doa yang perlahan Allah menaruh cinta diantara keduanya. Sehingga pria yang ingin melamar Fatimah, dengan gampang ia tolak begitu saja. Padahal, lelaki yang melamarnya bukan lelaki biasa-biasa saja. Lantas, mengapa Fatimah mau dan memilih Sayyidina Ali yang hidup dalam kesederhanaan.
Begitulah cara Allah bekerja.
Aku tidak berkata bahwa itu tidak mungkin terjadi dalam kehidupan modern saat ini. Itu bisa saja dan sangat mungkin untuk terjadi. Tapi, apakah mungkin akan terjadi pada mereka yang hatinya masih mencintai dunia, masih sangat mencintai ciptaanNya daripada sang Pencipta. Aku rasa, itulah yang membuat kejadian seperti itu mustahil terjadi.
Jadi menurutku, jika keimanan belum berada pada level lebih mengutamakan Allah dari apapun, kejadian-kejadian dua hati bersatu dengan cinta dalam diam, tidak mungkin terjadi. Yang ada, kau hanya akan merasakan kecewa yang teramat sangat. Sebab, dia yng kau cinta ternyata telah dilamar dan dipersunting oleh lelaki yang lebih siap dan segera mengungkapkan keinginannya untuk menduduki kursi pelaminan. Membangun bahtera rumah tangga bersama dengan masalah-masalah yang akan menghampiri di kemudian hari.
Jangan terlalu berfokus pada cerita yang sangat indah dan kau ingin rasanya kisah itu terjadi dalam kehidupanmu. Jelas sulit jika kau tidak sekuat, setegar dan memiliki keimanan yang kuat seperti karakter dalam cerita.
Entah apa yang aku tulis malam ini.
Aku sendiri sebetulnya tidak tau.
Aku hanya ingin bercerita, mempostingnya ke blog dan hati tenang karena itu. Gatel banget pengen nulis tapi bingung mau nulis apa.
Jadi, inilah jadinya.
by : http://dayatpiliang.id

Senin, 05 Juni 2017

Selamat Malam


Selamat malam.
Aku menuliskan ini pada malam hari di sudut kedai kopi di tengah kota siantar yang indah jika malam tiba. Saat aku menuliskan ini, di hadapanku ada tiga pasang manusia yang sedang bercanda dan membahas apa saja yang bisa mereka bahas. Begitu luar biasa.
Mereka sepertinya bahagia.
Entahlah.
Aku berharap, ketiga pasang manusia yang aku lihat, selalu berbahagia dengan hubungannya dan dilancarkan hingga menua bersama atau bertahan saat ajal menjemput.
Aku tidak iri. Doa di atas bukan suatu bentuk hasil dari iri hati melihat pemandangan yang mungkin sangat dibenci mereka yang sedang sendiri. Aku tidak begitu. Aku tidak ingin begitu dan aku tidak akan jadi begitu.
Untuk apa? untuk apa kita iri dengan kehidupan manusia lainnya?
Bukankah kita tidak melihat kehidupan mereka sebelum atau setelah ini? Siapa tau hidup mereka tidak begitu sebahagia mereka yang sendiri. Jadi, berhentilah menggunakan sudut pandang diri sendiri ketika melihat begitu enak hidup yang orang lain jalani.
Setiap manusia punya masalah. Kita semua tau itu dan percaya itu. Tapi kenapa kita selalu membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang yang lebih baik menurut kita?
Ah. Tidak ada habisnya memang membahas topik keluhan tentang kehidupan. Memang begitu sifat manusia yang diselimuti oleh keburukan. Bukan berarti aku tidak masuk ke dalam golongan manusia yang suka mengeluh. Terkadang juga aku masuk ke dalam golongan itu, terkadang juga tidak. Tergantung bagaimana kondisinya saja. 
Terkadang, saat otak dan hati lagi benar. Aku lebih banyak bersyukur daripada mengeluh. Begitu juga sebaliknya.
Di malam hari yang sepi bagi hatiku ini, aku ingin berpesan kepada diriku yang ada di masa depan. Kelak, saat kau sudah menikmati hasil dari rintisan karirmu yang susah kau menuju dan meraihnya. Jangan pernah menjadi sombong. Berjanjilah untuk selalu membantu siapa saja yang dalam kondisi kesulitan. Agar mereka tidak menggerutu tentang kehidupannya. Bantulah mereka tidak hanya sekedar dengan memberi, melainkan dengan ilmu perkembangan diri.
Wahai diriku di masa depan. Jadilah pribadi yang lebih bijak dari diriku di masa lalu.
Aku sangat berharap padamu.
Aku sudah melihat bagaimana kondisi hidupmu ke depannya.
Dan aku berharap, itu memang kondisi hidupmu di masa depan. Dengan kehidupan yang sesuai dengan harapanmu di masa yang sedang aku jalani.
Lagi-lagi, selamat malam.
http://dayatpiliang.id

Minggu, 14 Mei 2017

Lilin Kedamaian


Belakangan ini aku perhatikan, kedua kubu saling ribut dan saling benci. Aku tidak mengerti betul permasalahan apa sebenarnya yang sedang mereka alami. Kenapa bisa mereka bertengkar karena orang lain? Kenapa mereka bisa saling membenci dan menyudutkan seseorang yang berbeda memilih seseorang untuk berikan dukungan?

Meski aku memihak salah satu dari pasangan calon yang ada. Tapi aku tidak fanatik buta dalam memberikan dukungan. Fanatik buta itu, kita sudah tidak bisa lagi melihat mana yang benar dan mana yang salah. Sama seperti cinta yang sedang membara dalam hati. Dunia serasa damai ketika ada si dia. Dan keburukan apapun yang ada dalam dirinya, itu bukan satu keburukan yang harus dibesarkan. Itu hanya masalah kecil yang bisa dimaklumi. Begitulah sejatinya orang yang baru saja jatuh cinta dan cintanya masih membara dalam dadanya
Mungkin kalian sebagai netizen, sudah letih mendengar keributan ini. Sudah letih melihat dua kubu saling mematahkan apa yang mereka ucapkan tentang dukungan yang mereka berikan. Jadi aku tak begitu membahas masalah ini secara mendalam. Karena aku tak memiliki data yang tepat atau valid. Karena, aku bukan penulis jurnal. Aku hanya menulis catatan dalam kehidupanku. Menuliskan apa yang ada dalam pikiranku. Dan menuliskan apa yang sedang hatiku rasakan.
Jujur, aku berpihak pada ulama. 
Tapi, bukan berarti aku akan mendukung dengan penuh dukungan yang diberikan ulama pada satu pasangan calon yang ada. Aku hanya setuju dan menjalankan apa yang diperintahkan. Sudah, itu sudah lebih dari cukup sikap yang akan aku berikan untuk mengindari keributan yang akan terjadi. Kenapa? Karena, mengampanyekan itu bukan kapasitasku. Bila aku salah dalam bicara dan malah menimbulkan keributan dan kegaduhan yang luar biasa, jelas itu adalah hal buruk dan harusnya tidak dilakukan. Jadi, aku hanya membiarkan mereka yang betul-betul paham, untuk menyuarakan hal tersebut.
Bukankah belakangan ini, semenjak pemilihan presiden lalu, bangsa kita tidak berhenti ribut dan menjadi bangsa yang paranoid? Ini hanya dari pengamatanku yang tidak berdasarkan data yang valid. 
Belakangan ini, semenjak vonis untuk Basuki Tjahja Purnama diberikan oleh hakim. Muncul kembali aksi-aksi yang sebelumnya sempat terjadi tapi pada kubu yang berbeda. Mereka juga menyebutnya sebagai aksi damai. Aksi ini diselenggarakan untuk menyuarakan ketidakadilan atas vonis hakim untuk Basuki Tjahja Purnama. Entahlah, aku tidak bisa juga menentukan sikap setuju atau tidaknya dengan vonis itu. Karena aku bukan anak hukum dan kapasitasku belum sampai untuk setuju dengan vonis itu atau menolak vonis itu.
Aksi yang dilakukan oleh pendukung Basuki Tjahja Purnama ialah dengan menyalakan lilin sepanjang aksi. Asal damai, tidak masalah. Tidak perlu kita cela atau kita nyinyiri aksi-aksi yang mereka lakukan jika tidak sepaham dengan mereka. Sama seperti dengan aksi yang dilakukan oleh kubu berlawanan. Kita tidak perlu nyinyir dengan itu. Namanya negeri demokrasi, biarkan orang menyuarakan sesuatu yang menurut dia ada yang salah di negeri ini. Biarlah.
Toh, kenapa kita mesti meributkan aksi mereka yang menggunakan lilin? Bukankah itu juga menguntungkan para pedagang lilin? Dan ini salah satu menggerakkan roda perekonomian negeri. Seperti halnya beberapa waktu lalu ketika Basuki Tjahja Purnama kalah dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Basuki dikirimkan begitu banyak karangan bunga. Beberapa karangan bunga dirusak dan dibakar. Kemudian datang lagi karangan bunga dengan bonus balon yang menyertai tiap karangan bunga itu. Bagus menurutku. Tidak usah dinyinyiri. Karena itu salah satu upaya untuk menggerakkan roda perekonomian negeri. Pedagang bunga untung, pedagang karangan bunga untung, pedagang balon untung dan pedagang lilin untung. Ada banyak yang beruntung karena aksi.
Jadi, daripada berfokus pada hal yang akan menibulkan kebencian. Cobalah berfokus pada apa yang akan membuat kita memaklumi. Hidup dalam kedamaian tanpa ada gesekan bukankah lebih baik?
Aku hanya berharap, negeri kita kembali damai dan tidak terkotak-kotakan seperti saat ini. Mari kita menyebut satu kata untuk bangsa kita, Indonesia! Jangan ada sebutan pribumi dan non-pribumi. Sebut satu saja, Indonesia!
Ini adalah tulisan bodoh. Jangan terlalu dibawa serius.
By http://dayatpiliang.id

Minggu, 01 Januari 2017

Malam (Tahun) Baru

Momen pergantian tahun kemarin adalah momen dimana saya merasa menjadi makhluk paling menyedihkan di antara makhluk lain yang kala itu ‘menggeliat’ dalam hingar-bingar perayaan. Jujur ini bukanlah suatu malam pergantian tahun yang saya idam-idamkan karena nyatanya saya justru sendirian saat orang-orang membagi kebahagiaan di antara riuh terompet dan teriakan hitungan mundur penyambutan tahun yang baru.
Inilah saya. Bertugas dengan setia meliput acara perayaan tahun baru di salah satu club kenamaan di kota tercinta. Kali ini sendirian karena (sialnya) orang-orang yang biasa setia menemani memiliki perayaan sendiri-sendiri. Jadilah malam itu saya melenggang dengan pasrah meliput acara yang (sepertinya) biasa saja. Mengumpulkan mood ternyata tidak semudah mengatakannya. Bahkan kemeja pink yang saya kenakan yang warnanya dinilai bisa membangkitkan gairah malam itu tidak mampu berbuat banyak untuk membuat saya bahagia. Saya memasuki club dengan langkah putus-putus pas seperti janda kehilangan suami dalam perang. Disambut seorang teman yang memang bekerja di club tersebut saya dituntun ke lantai dua club, berkenalan dengan seorang perempuan yang belakangan saya tahu bernama Muna. Dari lantai dua saya mengitari pandangan ke sekeliling. Sesekali ke blackberry, sesekali ke Muna dan sesekali terbodoh dalam pikiran saya yang melompat ke sana ke mari. 
Malam semakin tinggi, dan akhirnya saya dituntun lagi ke sebuah meja yang telah ada bir dan tentu saja pulpy orange karena saya tidak mau menyambut tahun baru dengan alkohol. Pikiran saya terbang ke rumah dimana keluarga telah membuat acara sendiri dengan meriahnya. Mama dengan semena-mena menyiapkan 20 kilo ikan segar sebagai menyambut datangnya 2017. Saya tahu mama saya suka kalap untuk beberapa hal. 
Dalam riak orang-orang yang larut dalam perayaan saya merindu nenek. Yang sekarang mungkin sedang bahagia bersama suaminya di alam lain. Dalam nyaringnya bunyi terompet saya merindu diri saya yang seharusnya berada di antara orang-orang terkasih. Dalam remang lampu-lampu ungu, biru, hijau, merah dan jingga saya merindu teman-teman saya yang kebetulan merayakan tahun baru di berbagai belahan dunia. Dan di dalam teriakan lima, empat, tiga, dua, satu, saya menitikkan air mata pertama di 2017 dan menyesali betapa club ini bukanlah sebuah tempat yang layak untuk jiwa yang rapuh merayakan tahun baru. Saya menangis dalam diam yang berisik. Dan kekakuan itu pecah saat 'mereka’ yang mungkin mencintai saya menelepon dalam jarak yang bermil-mil. Mengucapkan selamat tahun baru untuk perempuan berbadan kecil yang tak tahu diri ini.
Orang-orang memulai tahun yang baru dalam buaian alkohol yang melenakan. Saya memulai tahun baru dengan keharuan yang menyebalkan. Dan dalam sesak yang tak bisa dinamai ini akhirnya saya memutuskan pulang. Membawa segenggam rindu pada rumah  yang jaraknya hanya 10 menit dari club yang menebar cahaya ungu, hijau, merah, jingga. 
Di perjalanan pulang saya menyadari bahwa meskipun tahun telah berganti, tapi ribuan kenangan yang tertinggal di tahun yang lama akan selalu mengganggu hingga waktu yang tak diprediksi.

Malam tahun baru hampir usai. Tapi saya yakin, kenangan yang berdesakan di hati ini tidak akan pernah selesai.