Kamis, 13 Oktober 2011

Untuk Langit


Selamat pagi langit.
Tak perlu bertanya tentang kabarmu. Aku tahu kau cerah sekarang. Biru dan putihmu kompak. Tak ada kelabu.
Langit, cerahmu lantukan nada ceria. Ceriakan hari semua penghuni bumi. Aku salah satunya langit.
Aku mencintaimu, seperti aku mencintai laut dengan birunya. Makanya itu langit aku marah jika ada yang sembarangan membakar sesuatu dan mengubah warnamu menjadi coklat.
Aku juga marah ketika rintik berhasil menembus awanmu, menjadikanmu muram. Uhh langit, saat itu aku selalu merindu. Saat kelabu mengantikan biru dan putihmu.
Dan langit, terima kasih lagi sudah tetap berada di atas kami. Jauh. Aku tak bisa membayangkan ketika kau runtuh. Menindih kami dengan tujuh lapisanmu.
Atau aku tak bisa bayangkan ketika warnamu merah. Ah pastilah bumi menjadi penuh amarah.
Jadi sekali lagi terima kasih langit.
Sampai lupa langit, boleh aku meminta?.
Pintaku tak banyak. Aku mohon tolong suatu saat perlihatkan padaku lukisan matanya, atau lukisan senyumnya. Jangan bertanya. Kamu pasti tahu maksudku. Maksudku Dia. Pasangan masa depanku. Sekali saja, langit. Kau bingkai lukisan itu dibiru milikmu dan gantung di gumpalan awan putih. Agar aku tahu langit, serupa apa senyumnya. Seindah mana matanya. Hanya itu. Tak banyak kan...??
Terima kasih sebelumnya, langit.


Dariku, Pengagummu.
(dibawah biru dan putihmu)

Ps :
  • Aku mengirim surat lewat Elang. Cium dia yah, dia kangen tuh tidur di gumpalan awan
  • Tolong seminggu ini jangan biarkan rintik hujan menembusmu, aku lagi punya kerjaan, pawang hujan mahal , gak mampu nyewa :)

surat dalam pesawat kertas

sebelumnya maaf, jika aku agak kaku. aku tak tahu harus dari mana memulai surat ini.
sepertinya inilah surat pertama yang benar-benar kutujukan untukmu, setelah sekian lamanya.

hai. apa kabar?
baik? sehat? semoga selalu begitu.
masih ingat aku? iya, aku yang dulu sering menangis jika difoto, tapi selalu bergaya congkak dengan kedua tangan di pinggang.
masih ingat? kita sering berbincang saat malam sebelum aku terlelap, sambil meluruskan kaki sampai sejajar dengan dinding.
rasanya sudah lama sekali ya masa-masa itu. tapi mungkin kau sudah lupa, karena aku pun terkadang mulai lupa dengan berbagai kenangan kita, bahkan ada banyak hal yang tak bisa kuingat. menyedihkan ya? hihi.

tampaknya kita memang sudah lama tak berbincang begini, bercakap lewat kata-kata yang tertulis seperti ini. yang digoreskan kuat-kuat melalui pena yang kugenggam erat.
apalagi berbincang secara lisan. rasanya tak mungkin lagi. meski aku masih sering bercakap denganmu yang sepertinya tak mungkin mendengarku, dan hanya terdengar oleh dinding kamar. nyatanya aku benar-benar lupa bagaimana suaramu, selalu sia-sia setiap kucoba mengingatnya.
oh iya, kau masih ingatkah dengan pesawat kertas? mainan buatan dari kertas, yang sangat kusuka waktu dulu itu. nanti surat ini akan kulipat menjadi pesawat kertas seperti itu, lalu kuterbangkan jauh.
semoga bisa terbang tinggi ke langit lalu mengelilingi bumi menuju tempatmu berada, di mana pun itu.
karena tidak mungkin jika aku kirim ke kantor pos dengan amplop bertuliskan
“untuk mama, yang entah di mana”. bisa-bisa akan ditertawakan, dicibir, disinisi, seperti yang kualami selama ini.
ah, sudah dulu ya. kita lanjutkan nanti. akan kuceritakan lebih banyak tentang berbagai hal yang telah terjadi.
maaf, jika aku selalu merindukanmu.

Rabu, 12 Oktober 2011

Belum ada cinta untuk malam


Selamat malam, malam..
Apa yang harus kukatakan padamu? kerinduan? kenangan? masa lalu? ya, mungkin itu yang lebih menyatu denganmu. Mungkin gelapnya yang tegas yang hadirkan itu. Kelam tanpa kompromi pada perasaan. Senang kau, aku termasuk jadi korbanmu? Tertawalah di bentangan gelapmu. Tertawakan aku, yang selalu merindu pada kenangan masa lalu dalam sendiriku. Puaskan bahagiamu sampai nanti pagi kau kehilangan kuasa yang dilahap mentari. Di waktu aku akan menari menyudahi mimpi.
Gelapmu itu adalah pijar-pijar rindu, lidah-lidah api yang menyulut kenangan dalam hati. Semburat masa lalu kau bawa dan kau singgahkan dalam nurani, aku seperti mati. Tak punya jiwa untuk hela masa, diam mendiami raga.
Bisa saja aku mencintaimu, biar tak selalu kau peluk aku dengan masa lalu. Namun maaf, hati sudah terpaut pada senja. Jingga sudah mengikatku dengan cinta yang merona pada batas bentang cakrawala. Aku lebih senang dengan yang berwarna, terang mencerahkan. Bukan gelap, hingga senyap menyekap.
Ah, sudahlah malam. Aku tak mau menghakimimu. Kau juga adalah ciptaan Tuhanku. Berdosa jika aku mengumpat hadirmu, sekalipun sering kau beri aku pilu. Sesungguhnya kau adalah indah, sebab bintang selalu berpendar, hiasi kelam biar tak terlalu mencekam. Bulan bersinar, beri lukisan akan ketenangan. Namun, tetap saja gelap adalah penguasamu, dan aku tak mau dikuasai itu.
Sudah ya malam, terlalu banyak tulisan, terlalu banyak pula kepedihan. Aku akan berusaha untuk bisa menerimamu, untuk bisa mencintaimu seperti aku mencintai senja.
salam, aku yang terluka gelapmu.

hai kamu, apa kabar?


mungkin kamu kaget menerima suratku ini. kenapa tiba-tiba menulis surat?kenapa sekarang? jujur ya, ada dua alasan utama kenapa aku menulis surat untukmu sekarang.  yang pertama, karena sebentar lagi valentine, dan sepertinya aku sudah terkena euforia hari kasih sayang ini sehingga teringat padamu .
yang kedua, kebetulan sedang ada acara ini, #30harimenulissuratcinta. maka kupikir, kenapa tidak kutulis saja surat untukmu? dan aku benar-benar ingin menulis untukmu, sampai sengaja membuat blog ini. aku ingin menulis untukmu, cinta. dan aku juga punya beberapa alasan kenapa aku ingin menulis untukmu..


yang paling pertama aku ingin berterimakasih padamu. setelah mengenalmu dulu, sedari kukecil, hidupku penuh warna. tak semua warna bagus, ada hitam yang gelap, jingga yang menyilaukan, hijau yang busuk. tapi aku berwarna! aku tau rasanya senang, gembira, marah, cemburu, sedih, bingung. aku dewasa dengan mengenalmu. karenamu juga aku tahu cara membuat orang tersenyum dan menangis. saat kamu ada disampingku, semua punya arti! aku bisa menulis lagu dari rintikan hujan, aku menyanyi bersama ilalang, aku menyukai semua masakan-bahkan sayur dan buah!.. lagi-lagi tidak semua menyenangkan, aku menangis bersama matahari, aku cemburu saat orang tertawa, aku merindu bahkan saat bersamanya. kamu, adalah pensil warna didalam hidupku, seperti permen segala rasa milik harry potter, tanpamu, aku tak punya rasa. 
karena itu aku juga berterimakasih pada yang Esa, karena telah menciptakanmu. menurutku kamu adalah ciptaan terindah, lebih daripada manusia. coba saja bayangkan jika manusia diciptakan, dan yang Esa lupa menciptakanmu. sedangkan ada kamu didunia saja, manusia sudah seperti ini, bagaimana jika tidak ada kamu? hiii aku tidak mau membayangkannya. 
mari membayangkan, apa yang telah kamu perbuat pada dunia dan diriku saja. kamu adalah konektor paling canggih yang pernah ada, karenamu semua orang dipelosok dunia bisa disatukan. dan kita sudah sering mempraktekannya.


alasan lain kenapa aku menulis untukmu adalah, aku minta maaf. atas pernyataanku dulu. dulu aku bilang, bahwa cinta itu rakus, dan kamu itu mengambil semua rasa tepat di asanya, lalu mengaduk dan menjejalkannya dalam satu masa... tapi saat itu aku naif, aku lupa apa saja yang sudah kamu berikan untukku.  saat itu ada seorang bocah yang mematahkan hatiku, kemudian hatiku terbelah menjadi bagian, cinta. bagian itu terlalu kecil untuk menampung semua rasa yang telah kau berikan, semua meluap dan membanjir. aku lari. aku lari karena tak sanggup menerima lebih banyak lagi darimu, dan malu karena aku tak bisa menampungnya juga. aku lupa bahkan jika bukan karenamu aku tidak bisa merasakan apapun. maafkan aku..


maka alasan selanjutnya kenapa aku menulis surat untukmu.. aku kangen padamu, cinta. hari-hari tanpamu adalah hari yang mati. saat aku tidak jatuh cinta atau saat aku tak patah hati seperti ini, seperti sedang terbaring koma ditempat tidur. tak ada lagi bedanya malam dan siang, manis dan asam, hitam dan putih. ini baru namanya mati rasa, semua keseharianku adalah rutinitas, dan asal kamu tahu, rutinitas itu lebih kejam dari patah hati. dia membuatku tidak bisa bernafas, membuatku berjalan terus sehingga aku tak tahu apa saja yang sudah kulewati. aku tak mau berteman dengannya cinta. dia tidak mengerti esensi dari hidup. bersama dia, musik seperti kehilangan irama, hujan jatuh karena siklus semata bukan karena daya tarik gravitasi yang ajaib, juga pelangi semata-mata hanyalah sebuah permainan cahaya, bukan paduan kuas ajaib yang dilukis malaikat. jangan tanya soal keajaiban, dia tidak akan mengerti itu.


yang terakhir kenapa aku menulis untukmu, aku mohon, kembali padaku. kembali pada hidupku cinta, aku tidak bisa hidup didunia ini tanpamu.  denganmu, aku melihat, merasa, mengerti dan belajar dari semuanya. aku tak mau lagi berteman dengan rutinitas, aku mau berteman denganmu, dulu kita berteman baik kan? kembalikan masa-masa itu, buat aku hidup lagi atau setidaknya kembali padaku pada bulan penuh cinta ini. aku bisa lebih mati rasa lagi melihat kamu bersama semua orang kecuali aku. tanpamu, hidupku sepi sekali..


akhirnya, aku lega mengatakan semua ini padamu. semoga kamu membaca surat ini sampai selesai. dan pertimbangkan perkataanku..
selamat malam cinta.


_yang menunggu jawabanmu

Kamu yang Selalu Mampir Dalam Doaku



Dear kamu..kamu..kamu..


Selamat Pagi
Selamat Siang
Selamat Malam
Tak lupa kusisipkan “Assalamualaikum”


Hey kamu….sudahkah kamu mampir dalam doaku hari ini…?
Pasti kamu tidak ingat, kalau begitu mari aku bantu kamu mengingatnya.


Pagi ini, saat adzan Shubuh berkumandang, dan keluarga ayam bersahutan. Aku masih tertidur pulas, terbangun bukan karena suara tadi, melainkan karena alarm yang bunyi tepat di sebelah kanan bantalku. Mengucap syukur, aku terbangun dalam keadaan sehat dan aku masih mencintaimu. Absen kamu yang pertama saat aku terbangun dari tidur.


Dalam sujudku di waktu subuh, absen keduamu padaku. Kembali hadir dalam doaku untuk meminta kamu bahagia sepanjang hari ini. Seperti biasa aku pun berangkat mengais rejeki ku setiap hari, sampai bertemu jam setengah 8 nanti.


Waktu dhuha ku kau kembali menyapaku, untuk menyisipkan namamu diantara nama-nama orang terkasih yang aku sebutkan didalam doa dhuha-ku. “Tuhan…Limpahkanlah semua rejeki dari bumi dan langit untuk kami semua juga dia (baca: kamu)”. Mulai beraktivitas sampai jam makan siang. Hemm…sudikah kamu mampir jam makan siang nanti.


Kebiasaanku setiap hari adalah makan siang dulu, ngobrol dengan teman-temanku, baru bergegas Dhuhur. Mengambil wudlu, berjamaah kalau ada teman yang bisa diajak berjamaah, kalau gak ada ya “single fighter”, menutup dhuhurku dengan bertanya pada Tuhan, “Berkahilah kami dan dia (baca:kamu) siang ini, makan siang dengan apa ya Tuhan dia? Apapun jadikanlah makanannya berkah…amiin”. Kembali lagi kamu masih rajin mampir didoa-doaku… Alhamdulillah.


Bel berbunyi, pertanda jam pulang 16:00. Pekerjaanku ternyata masih belum selesai. Baru setengah lima nanti, mungkin kamu akan hadir lagi didalam doa Ashar-ku. Dan kamu pun masih hadir dalam doaku, menjaga aku tetap mendoakan kamu “Lindungilah kami dan dia (baca:kamu) dalam perjalanan pulang kami”.


Maghrib pun tiba, terkadang aku masih dijalan pulang saat waktu maghrib tiba. Tapi beberapa hari terakhir ini, sebelum maghrib aku sudah berada dirumah. Jadi jujurku, aku suka agak sedikit menunda magrib-ku, iya karena aku makan malam dulu tepat jam 18:00. Luar biasa sekali, kamu masih setia menungguku mengabsen dirimu diwaktu Maghrib-ku. Tidak banyak doa yang kupanjatkan di waktu Maghrib-ku “hanya berharap kamu menyapaku malam ini”


Ternyata..tak juga kamu menyapaku malam ini. Kututup malamku dengan waktu Isya-ku, dan masih terselip namamu diujung doaku malam ini. Kalau aku cukup kuat menahan kantuk, kamu akan beruntung ada dalam sunah Hajat-ku. Kalaupun tidak dimalam ini mungkin di malam-malam yang lain atau di sepertiga malamku nanti. Tapi tidak cukup dengan itu, kamu masih saja serakah ingin ada dalam doa sebelum tidurku. Kuselipkan kamu “Berikanlah dia mimpi indah”. Pulaslah aku tidur, berharap bertemumu dalam mimpi-mimpi tidurku.


Jika aku cukup beruntung, aku akan bertemu kamu lagi dalam sepertiga malamku. Selalu tidak pernah terlupa menyelipkan kamu disitu.. “Tuhan, siapakah dia itu? Apapun dia, jadikanlah dia sebagai imamku kelak, jadikanlah dia sebaga tiket surgaku kelak..siapapun dia Tuhan, segeralah pertemukan kami…”


Hey kamu…aku mencintaimu bahkan sebelum kita bertemu, tidak akan pernah aku tidak mendoakanmu dalam sujud-sujudku.


“Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takan pernah selesai mendoakanmu” ~ Sapardi Joko Damono


Sebelum ku akhiri surat ini pun, kamu masih mampir dalam doaku. Semoga kita dipertemukan kelak dalam keadaan yang paling sempurna dan indah..amiinn…


Wasalamualaikum kamu yang selalu mampir dalam doaku… :*


Dari,


-Aku yang selalu mendoakanmu-

Sabtu, 04 Juni 2011

Apa itu CINTA

Seseorang bertanya padaku,
Apa itu CINTA?
Aku tidak dapat menjawabnya.
Sedikit yang aku tahu,
Bila rasa yang besar akan kebahagiaan seseorang dengan lawan jenis, terbuai dirinya dalam indahnya kebersamaan.
Yang dapat melawan kejengkelan, sakit hati, kekecewaan serta amarah yang tak terkendali.
Dan tak ingin terpisahkan, selalu menyanyikan lagu rindu dikala jarak memisahkan. Syair dan sajak cinta tergoreskan dalam hati. Hanya malam yang sunyi menjadi saksi bisu.
Seseorang tersebut tersenyum,
Dikatakannya :
Cinta tak harus berakhir bahagia…Karena cinta tidak harus berakhir
dan
Cinta sejati mendengar apa yang tidak dikatakan dan mengerti apa yang tidak dijelaskan, sebab cinta tidak datang dari bibir dan lidah atau pikiran…melainkan dari HATI
Bagaimana dengan HATI yang tak mau berpaling dari masa lalunya?, tanda tanyaku
Jika engkau mencintai, engkau harus siap untuk menerima penderitaan. Karena jika engkau mengharapkan kebahagiaan, engkau bukan mencintai, melainkan…memanfaatkan.
Lalu. Bagaimana bila tak memanfaatkan, tetapi berharap akan suatu kebahagiaan dari sebuah CINTA?
Seseorang itu berlalu, tak menoleh kembali. Bersamaan deru ombak yang kerasnya menerjang batu karang, hingga menjauh tak terjangkau kembali oleh pandanganku.
Kususuri luasnya laut dan tak kudapati dirinya. Ku masih berdiri tegar, diantara deru ombak dan hembusan angin menyibak pagi yang segera akan tiba. Fajar menyingsing, sinar matahari nan elok memancarkan cahayanya menghiasi jagad raya. Berharap kudapati seseorang itu untuk menjawab pertanyaan terakhirku

Selasa, 24 Mei 2011

*BASED ON TRUE STORY FROM MY BESTFRIEND*


sungguh….. bukanlah akhir yg mudah untuk dilalui.

Setiap orang pasti pernah dan akan merasakan kehilangan ataupun ditinggalkan oleh orang tersayang. Entah dengan cara apapun itu, pasti rasanya akan sangat menyakitkan!! Membuat galau dan luka yg mendalam di hati.
Bicara tentang cinta, emank gak pernah ada habisnya.

cinta..

Sungguh sulit untuk dimengerti. Penuh dg canda, tawa, marah, tangis & juga air mata. Cinta itu membahagiakan, tp ada kalanya cinta itu menyakitkan. Terutama bila kita harus kehilangannya.
Mungkin… saat kita putus cinta, kita akan menangis meraung2, mengurung diri selama beberapa waktu & tenggelam dalam kesedihan sambil mengutuk orang yang telah mematahkan hati kita. Tapi, setelah itu semua berlalu.. setelah kita merasa siap untuk memulai hari, kita bisa tersenyum lagi, dan bahkan mungkin saja kita bisa kembali menyapa orang itu tanpa rasa kebencian.
Akan tetapi….
Bagaimana bila kita harus kehilangan seseorang, cinta..untuk selamanya, tanpa kita bisa berjumpa lagi dengannya??!
Bila kita tak bisa ada bersamanya didetik2 terakhir dalam hidupnya… Terlebih lagi bila kita bahkan tak tahu bahwa orang yang kita cintai itu selama ini menutupi penyakitnya itu, dan baru mengetahuinya setelah ia tiada.

“Sungguh, menyayat hati…!!”

Itu lah yang sedang dialami oleh salah seorang sahabatku. Bukan hanya sekali, tapi ini sudah ketiga kalinya dalam hidupnya.
*terjadi secara berurutan*
Untuk pertama kalinya ia mengalami hal ini, ia masih bisa bersabar. Meskipun itu sangat berat, tapi ia mencoba tuk bertahan.
Kedua kalinya.. ia mulai bertanya, “Tuhan, mengapa ini semua terjadi padaku? Harus kah ini ku alami lagi?!”. Tapi dengan ketabahan dan dukungan dari lingkungan sekitarnya, ia pun akhirnya kembali bangkit. Meskipun dalam hati kecilnya terbesit ketakutan akan kehilangan cinta dengan cara yang sama lagi, namun ia tetap bertahan. Kembali mencoba tuk memulai hidup baru.
Akan tetapi…. kini, untuk ketiga kalinyaIa kembali harus dihadapkan pada situasi yang sama!! Ia bahkan tak sanggup tuk berkata-kata lagi. Habis sudah rasanya, lenyap tak bersisa raganya. Pikirannya pun mulai melayang tak tentu ada di mana. Ia sedih, marah, dan kecewa.“Mengapa ini harus terjadi lagi?! Apakah salahku, hingga Tuhan menghukumku sedemikian rupa. Tak cukup kah 2 kejadian sebelumya!!”, kata-kata itu pun keluar dari mulutnya.
Hancur.. itu pasti. Ia merasa tak sanggup tuk bangkit lagi. Ia pun takut tuk menjalin hubungan lagi,termasuk dengan diriku..sahabatnya yang telah ia kenal sekian tahun! Ia bahkan berkata“Apa sebaiknya kita menjaga jarak, karena aku nggak mau kehilangan satu orang yang kusayangi lagi!!”.
Ya, Tuhan….
Detik itu juga aku merasa kecewa atas kata-katanya. Namun seketika itu pula aku tersadar… betapa besar rasa sayang yang ia miliki untukku. Bersyukur aku telah mengenal dan memilikinya sebagai seorang sahabat.
Kini, tugasku lah untuk menenangkan hatinya, membuatnya bangkit dari keterpurukan. meskipun mungkin tak banyak yang dapat kulakukan, tapi aku akan berusaha untuk selalu ada disampingnya.
Sahabat…
Di mana pun kau berada, ingatlah…aku kan selalu ada untukmu. Kapanpun itu juga! dan, (mgkn terdengar klise).. tapi percayalah, Allah tak kan mungkin memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya.