hai, :)
maaf aku selalu canggung untuk memulai sesuatu. aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku rasakan hari ini padamu. seperti hari-hari sebelumnya dan akan sama untuk hari-hari ke depannya. aku harap.
aku ingin bercerita, kamu mau dengar?
pagi ini aku bangun sambil tersenyum. membayangkan mu berada di sisi ku mengelus rambut ku dan mengucapkan selamat pagi yang manis di telingaku. persis seperti dalam mimpiku. aku tersenyum dan membuka mata. dan ternyata kamu tidak ada. aku tersenyum lagi. kali ini senyum yang hanya aku yang tau apa artinya.
aku menarik lagi selimut sampai menutupi sebagian wajahku. berusaha kembali terlelap dan melanjutkan mimpi indahku tanpa harus ada yang mengusik. seperti sekarang, sinar matahari seolah tidak bersahabat padaku. ia menyeruak dari balik gorden kamar ku, mencoba menggodaku untuk tidak lagi bermimpi tentang mu.
aku tidak mau. tentu saja. karna hanya dalam mimpi aku dapat melihatmu bersikap manis padaku. hanya dalam mimpi aku bisa merasakan genggaman tangan mu yang besar. dan hanya dalam mimpi aku dapat merasakan hangatnya hembusan nafasmu di sisi kanan telingaku. dan itu manis buatku. sangat.
tapi seketika aku tersadar. hari ini matahari mengingatkan ku untuk bertemu denganmu. dengan mu yang nyata. yang setiap hari menarik bola mataku untuk mengikuti kemana gerak langkahmu. menertawai setiap tingkah mu yang selalu lucu di mataku. dan menangkap setiap tatapan mata mu yang menyiratkan pertanyaan "Siapa dia?" padaku. lalu aku akan menunduk atau melakukan sesuatu sambil menahan senyum tersipuku. aku suka itu.
aku akan selalu suka masa-masa itu.
dari ku, untuk mu.
hari ini kita akan bertem
Jumat, 09 Desember 2011
KALO EMANK JODO GK KEMANA
TKP - Sebuah kedai kopi di pojokan sana.
Sudah jam 5 sore.
Katanya kamu mau lewat sini.
Kalo sampe 15 menit lagi kamu belum sampe sini, berarti aku ga berjodoh sama kamu.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima....
Zzzz... belum dateng lah!
Oke, ya sudah gapapa kalo emang bukan jodoh juga.
Ya sudah, ya sudah, ya sudah.
Bukan jodoh, bukan jodoh, bukan jodoh.
Bukan jodoh, bukan jodoh, ga berjodoh? Ya sudah lah ya sudah. *monolog.
Satu... Dua.. Tiga...
14 menit lebih 40 detik.
Oke, sialan, itu kamu.
Sepeda tua berpeneng klasik itu, ya.. itu kamu.
Sepatu kulit coklat tua itu, ya, itu kamu.
Mata yang super menyebalkan itu, ya... aku tau itu memang kamu.
Senyuman kaku itu. Tepat sekali.. itu memang kamu.
14 menit lebih 50 detik.
Oke, sepertinya aku memang berjodoh dengan kamu. :)
Sudah jam 5 sore.
Katanya kamu mau lewat sini.
Kalo sampe 15 menit lagi kamu belum sampe sini, berarti aku ga berjodoh sama kamu.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima....
Zzzz... belum dateng lah!
Oke, ya sudah gapapa kalo emang bukan jodoh juga.
Ya sudah, ya sudah, ya sudah.
Bukan jodoh, bukan jodoh, bukan jodoh.
Bukan jodoh, bukan jodoh, ga berjodoh? Ya sudah lah ya sudah. *monolog.
Satu... Dua.. Tiga...
14 menit lebih 40 detik.
Oke, sialan, itu kamu.
Sepeda tua berpeneng klasik itu, ya.. itu kamu.
Sepatu kulit coklat tua itu, ya, itu kamu.
Mata yang super menyebalkan itu, ya... aku tau itu memang kamu.
Senyuman kaku itu. Tepat sekali.. itu memang kamu.
14 menit lebih 50 detik.
Oke, sepertinya aku memang berjodoh dengan kamu. :)
Rabu, 07 Desember 2011
Surat Cinta Untuk Calon Istriku
Teruntuk,
Wanita yang paling kucintai setelah ibu
Hai
puanku, bila saatnya tiba kau baca surat cintaku ini, aku hanya
berharap esok hari saat dimana kau kecup punggung tanganku untuk yang
pertama kali di hadapan penghulu, para saksi, orang tua kita, saudaramu,
saudaraku, sahabatmu, sahabatku, adalah simbol cintamu yang akan selalu
ada disisiku sampai Izrail menghampiri kita.
Perempuanku,
jangan kaget bila aku menuliskan surat cinta ini jauh dari hari saat
kau membacanya. Saat aku belum melihat paras cantikmu, saat aku belum
mengenal akhlak muliamu, saat aku belum tahu namamu. Jangan khawatir
sayang, dulu kita sudah bertemu. Saat di alam ruh. Allah telah
memilihkan kamu untuk menjadi istriku, saat empat bulan masa kandunganku
di dalam perut ibu. Sejak saat itu namamu sudah disandingkan di sebelah
namaku. Sejak saat itu aku sudah mencintaimu.
Cantik,
selain mahar yang kau minta saat pernikahan kita. Aku ingin berikan kau
satu lagi: sebuah mukjizat Nabi terakhir. Alquranul Karim, yang akan
selalu kau baca dengan suara merdumu, sebagai pelepas lelahku sepulang
aku bekerja. Alquranul Karim, yang akan kau ajarkan betapa indah
lantunan ayat - ayat suci kepada anak - anak kita nanti. Alquranul
Karim, yang akan kau baca tepat disampingku nanti, saat aku terkulai
lemah tak lagi berarti walau hanya untuk menjentikan jari. Alquranul
Karim, yang akan selalu kau bawa dan kau baca tepat di samping nisanku
nanti apabila Izrail menjemputku lebih dulu. Tetap bacakan untukku walau
seayat sayang, aku pasti akan merindukan suara bidadariku bernyanyi:
Kau mengaji.
Sayang, mungkin aku tak lebih
hebat dari ayahmu dalam menjagamu. Aku tak segagah ia melindungi dirimu,
mempertahankanmu dari para pria yang menginginkanmu darinya, termasuk
aku yang akhirnya ia percayakan sebagai penggantinya untuk menjagamu.
Tapi puanku, percayalah. Kaulah alasanku untuk belajar menjadi pria yang
kuat. Pria yang rela walau harus sampai mati melindungimu, demi menjaga
hatimu, kehormatanmu juga ragamu. Dinginnya malam sekali pun tak akan
aku biarkan mengigit kulit indahmu sayang.
Cinta,
izinkanlah akau saat esok hari, sebelum kuucapkan ijab qabul pernikahan
kita yang disahkan para saksi, kulantunkan selarik ayat suci: An Nisa.
34, sebagai janjiku yang akan selalu melindungimu atas nama laki - laki.
Sebagaimana Allah telah mewahyukan ayat itu kepada Muhammad nabi kita.
Hei
wanitaku, saat kau sudah menggenapkan agamaku nanti, sesudah kau amini
Al-Fatihahku yang pertama kali, setelah pertama kalinya kau cium
tanganku selepas sholat, aku ingin saat itu kau selalu jadi pengingatku.
Aku hanya manusia yang terkadang lupa, sering melakukan salah, dan laki
– laki yang tak peka seperti wanita. Sekali kau memohon: ‘Maukah kau
lakukan itu untukku?’ Demi apa pun, apalah arti dunia jika aku melihat
air matamu. Kan kulakukan sepenuh hati hanya untukmu hei Batariku.
Hei
bidadariku, aku berjanji.Tanpa sedikit pun aku menentang hal yang
pernah dilakukan Rasulullah. Saat kau menjadi istriku nanti, akan
kujadikan kau satu – satunya di dunia dan akhirat. Seperti halnya
Sayidina Ali Radliallahuanhu menjadikan Fatimah Az Zahra satu – satunya
bidadari bumi yang dimilikinya.
Kasih,
tenanglah. Saat aku telah menjadi imammu nanti, tak akan pernah berhenti
aku mencari rezeki. Selama masih keluar keringat kuperas dari tubuhku,
selama masih kuat kubanting tulang punggungku, aku akan terus
menafkahimu. Tak akan kubiarkan kau dan anak – anak kita kelaparan dan
kehausan. Kupastikan kalian tak akan pernah kekurangan cintaku, sayang.
Jelita,
kalau boleh aku meminta. Aku menginginkan putri yang menjadi buah hati
kita yang pertama. Kita didik ia menjadi anak yang shalehah, dan kan
kutanam sekeping jiwamu pada dirinya. Agar apabila nanti kau dipanggil
lebih dulu oleh Pemilikmu yang sebenar – benarnya, aku masih bisa
melihat kamu dalam diri putri kita. Dan aku ingin putra kita hanya
terpaut satu tahun dengan kakaknya. Agar ia bisa tumbuh dewasa bersama
saudari kandungnya. Dan akan kutempa dia agar menjadi pria yang kuat,
bahkan melebihi aku. Agar apabila nanti aku yang kembali lebih dulu ke
sisiNya, ia bisa menjaga ibu dan kakaknya seperti yang telah kulakukan
dan kuajarkan kepadanya.
Manis, saat aku resmi
menjadi suamimu nanti. Tak kan kulewatkan pagi tanpa mengecup keningmu
yang harum. Kan kulakukan tiap aku hendak bekerja, atau tiap kali aku
pergi meninggalkanmu. Dan akan selalu kulisankan tiga kata setelah
bibirku ini meletakkan cinta di wajahmu: I love you. Dan tak akan
kulewatkan pula detik berharga sebelum kau memejamkan mata, kembali kan
kuletakkan cinta di kening atau pipimu. Aku tak akan bosan menciummu
setiap hari, sayang. Seperti halnya nabimu juga nabiku yang tak pernah
bosan melakukan hal romantis ini kepada istrinya setiap hari.
Batariku,
aku tahu perjalanan bahtera kita tak akan selalu berlangit cerah.
Syaitan pun tak kan pernah berhenti merusak hidup manusia sampai kiamat
tiba. Maka ingatkanlah aku dengan kelembutan hatimu, agar tak ada hal
lain yang kulakukan untukmu selain mencintaimu dan melindungimu. Sungguh
aku tahu wanita itu tercipta dari tulang rusuk pria yang paling
bengkok. Maka tak akan kupaksa ‘tuk luruskan engkau hingga patah, dan
tak akan pula kubiarkan engkau tetap bengkok. Islam yang akan selalu
menuntunku bagaimana seharusnya aku memperlakukanmu.
Sayang
percayalah, aku akan selalu mencintaimu di tiap waktuku. Aku akan tetap
menciummu, meski pipimu tak lagi sekencang dulu, meski keriput tlah
menggarisi keningmu. Aku akan tetap membelai rambutmu, meski putih telah
memakan habis hitamnya yang indah. Aku akan tetap memelukmu, meski
bungkuk bdanmu dan ringkih tubuhmu, aku akan tetap memelukmu.
Berjanjilah
cinta, apabila tiba saatnya Izrail memamerkan surga dan neraka di kedua
sayapnya di hadapanku. Jangan pernah berhenti bisikkan nama Allah di
telingaku, jangan pernah kau lepas genggaman tanganku dan jangan dulu
jatuhkan air matamu sebelum malaikat benar – benar mencabut ruh dari
ragaku. Sudah kubilang: Apalah arti dunia jika aku melihat air matamu.
Tenanglah
kasih, batu nisan memang akan pisahkan dunia kita nanti, tapi dia tak
akan mampu pisahkan cinta kita. Aku mencintaimu tak hanya di dunia.
Semoga
Allah mengabulkan doa di tiap sujudku, agar pernikahan kita tak hanya
dilanggengkan di dunia, tapi juga diabadikan di taman surgaNya. Amin…
Aku mencintaimu karena Allah, bidadari surgaku
Calon Imam hidupmu
Selamat ya, Aku Gak Bahagia kok
Dear kamu,
Hei, gimana kabar kamu? Pasti kamu bilang kamu lagi sangat bahagia. Oh, tentu saja. Dengan segala hal yang kamu hadapi dan punya sekarang, kamu pasti bahagia.
Aku bilang aku senang lihat kamu bahagia. Aku ucapin selamat bertubi-tubi ke kamu, lalu cipika-cipiki. Kamu tahu, untuk sampai ke tahap aku bisa bilang selamat dan senyum di depan kamu itu nggak gampang.
Awalnya, susah sekali untuk bahagia untuk kamu. Egois mungkin. Tapi kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain, jadi jangan bilang kamu tahu rasanya. Aku ingat malam itu kamu memberitahukan kabar bahagia di telepon. Kamu mungkin terlalu bahagia sampai kamu nggak tahu kalau saat itu suaraku bergetar dan hanya mengucap sepatah dua patah kata. Aku mencari padanan kata yang tepat untuk perasaan ini. Iya, aku iri sama aku.
Malam itu aku menangis. Benci rasanya harus iri sama kamu dan nggak bisa bahagia bersamamu. I wasn’t a good friend, was I? Aku menghindar dari segala macam pembicaraan tentangmu. Tentu saja kamu mungkin nggak tahu. Butuh waktu sebulan cuma untuk merasa bahagia bersamamu.
Saat aku merasa sudah bisa berbahagia untuk kamu, lalu kamu mulai mengeluh ini-itu. Kamu tahu rasanya aku pengen kasih cabe ke mulut kamu biar kamu diam. Kamu udah dapat banyak tahu, nggak. Kamu punya yang nggak aku punya jadi berhenti mengeluh.
Ada saat-saatnya aku mau unfollow kamu di twitter. Update-mu itu sungguh menyiksa, tahu! Rasanya setiap kamu tulis sesuatu aku mau skip aja. Jahat? Mungkin.
Untuk merasa lebih baik, aku harus berkali-kali bilang bahwa aku baik-baik saja dan bahagia. Kadang-kadang berhasil, tapi lebih banyak nggak, sih. I had to deal with myself and it was so hard. Aku selalu membayangkan bahwa ketika orang-orang melihat kita, mereka akan lebih fokus ke kamu. Mereka cuma akan lihat ke aku dan memandang dengan wajah kasihan. Iya, kasihan, ya aku. Cuma jadi bayang-bayangmu saja.
Jadi setelah kamu baca surat ini, aku pengen kamu nggak banyak mengeluh lagi. Dan tolong, dong, kalau ada yang punya Doraemon, percepat waktu saja supaya aku nggak tersiksa seperti ini.
Maaf, ya. Ini sebenarnya bukan salah kamu. Aku yang salah karena aku nggak bahagia buat kamu. Aku sayang kamu. Tapi aku lagi nggak sayang diriku sendiri. Tenang saja, aku lagi berusaha memperbaikinya, kok. Dan kalaupun tidak, aku pasti akan tetap tersenyum buatmu nanti. Aku nggak akan merusak kebahagianmu dengan rengutanku.
Sampai ketemu di hari bahagiamu, ya.
Sahabatmu.
Aku.
Hei, gimana kabar kamu? Pasti kamu bilang kamu lagi sangat bahagia. Oh, tentu saja. Dengan segala hal yang kamu hadapi dan punya sekarang, kamu pasti bahagia.
Aku bilang aku senang lihat kamu bahagia. Aku ucapin selamat bertubi-tubi ke kamu, lalu cipika-cipiki. Kamu tahu, untuk sampai ke tahap aku bisa bilang selamat dan senyum di depan kamu itu nggak gampang.
Awalnya, susah sekali untuk bahagia untuk kamu. Egois mungkin. Tapi kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain, jadi jangan bilang kamu tahu rasanya. Aku ingat malam itu kamu memberitahukan kabar bahagia di telepon. Kamu mungkin terlalu bahagia sampai kamu nggak tahu kalau saat itu suaraku bergetar dan hanya mengucap sepatah dua patah kata. Aku mencari padanan kata yang tepat untuk perasaan ini. Iya, aku iri sama aku.
Malam itu aku menangis. Benci rasanya harus iri sama kamu dan nggak bisa bahagia bersamamu. I wasn’t a good friend, was I? Aku menghindar dari segala macam pembicaraan tentangmu. Tentu saja kamu mungkin nggak tahu. Butuh waktu sebulan cuma untuk merasa bahagia bersamamu.
Saat aku merasa sudah bisa berbahagia untuk kamu, lalu kamu mulai mengeluh ini-itu. Kamu tahu rasanya aku pengen kasih cabe ke mulut kamu biar kamu diam. Kamu udah dapat banyak tahu, nggak. Kamu punya yang nggak aku punya jadi berhenti mengeluh.
Ada saat-saatnya aku mau unfollow kamu di twitter. Update-mu itu sungguh menyiksa, tahu! Rasanya setiap kamu tulis sesuatu aku mau skip aja. Jahat? Mungkin.
Untuk merasa lebih baik, aku harus berkali-kali bilang bahwa aku baik-baik saja dan bahagia. Kadang-kadang berhasil, tapi lebih banyak nggak, sih. I had to deal with myself and it was so hard. Aku selalu membayangkan bahwa ketika orang-orang melihat kita, mereka akan lebih fokus ke kamu. Mereka cuma akan lihat ke aku dan memandang dengan wajah kasihan. Iya, kasihan, ya aku. Cuma jadi bayang-bayangmu saja.
Jadi setelah kamu baca surat ini, aku pengen kamu nggak banyak mengeluh lagi. Dan tolong, dong, kalau ada yang punya Doraemon, percepat waktu saja supaya aku nggak tersiksa seperti ini.
Maaf, ya. Ini sebenarnya bukan salah kamu. Aku yang salah karena aku nggak bahagia buat kamu. Aku sayang kamu. Tapi aku lagi nggak sayang diriku sendiri. Tenang saja, aku lagi berusaha memperbaikinya, kok. Dan kalaupun tidak, aku pasti akan tetap tersenyum buatmu nanti. Aku nggak akan merusak kebahagianmu dengan rengutanku.
Sampai ketemu di hari bahagiamu, ya.
Sahabatmu.
Aku.
Kamis, 01 Desember 2011
Izinkan Aku Mengenangmu
Apa dosaku padamu..
Hingga kau buat hatiku membisu..Seribu bahasa tak ada yang mampu.,.
Ungkapkan sakit yang pilu..
Hingga kau buat hatiku membisu..Seribu bahasa tak ada yang mampu.,.
Ungkapkan sakit yang pilu..
Kini ku mengerti kan semua yang ada..
Takdir tak menyatukan kita,,
Cinta kita tak selalu bersama…
Maafkan semua yang dulu kulakukan..
Takdir tak menyatukan kita,,
Cinta kita tak selalu bersama…
Maafkan semua yang dulu kulakukan..
Izinkan aku mengenangmu..
Dalam relung dan sukmaku..
Memaksa tak bisa melupakanmu..
Yang terlanjur mencintaimu.,..
Dalam relung dan sukmaku..
Memaksa tak bisa melupakanmu..
Yang terlanjur mencintaimu.,..
Izinkan aku mengenangmu..
Walau kau kan kelak lupakanku..
biarlah kau kutulis kau dalam lembaranku..
Sebagai cinta terindahku..
Walau kau kan kelak lupakanku..
biarlah kau kutulis kau dalam lembaranku..
Sebagai cinta terindahku..
Selamat Jalan, Aku Mencintaimu
aku terdiam sendiri di sini
dalam bayangmu buat ku berlari
mengejar awan sang bidadari
ku tau kau sudah pergi,
dalam bayangmu buat ku berlari
mengejar awan sang bidadari
ku tau kau sudah pergi,
tinggal kan ku sendiri di sini
dengan semua isi hati ini
andai,, andai saja waktu tak berlalu
mungkin, kau masih di sisiku
dengan semua isi hati ini
andai,, andai saja waktu tak berlalu
mungkin, kau masih di sisiku
sampai akirnya kau kan pergi,jauh, dan jauhh
bagai mimpi dalam senyuman malaikat mu
ku berharap ini mimpi,hanya mimpi ku yang palsu
lari dalam dekapan detak jantung tubuh ku
bagai mimpi dalam senyuman malaikat mu
ku berharap ini mimpi,hanya mimpi ku yang palsu
lari dalam dekapan detak jantung tubuh ku
mimpi yang lari dari kenyatan yg pahit
detik demi detik tak ku rasakan sakit
karang batu pun hancur dengan air laut
seperti ku yg sudah remuk dalam maut
detik demi detik tak ku rasakan sakit
karang batu pun hancur dengan air laut
seperti ku yg sudah remuk dalam maut
hey,bukan kah kita berjanji
akan selalu ada di sini
bersama melihat pelangi
dan kenapa kau pergi
akan selalu ada di sini
bersama melihat pelangi
dan kenapa kau pergi
tuhan,aku bahagia dengan nya
belum api itu ku berikan padanya
tapi kau sudah membawa nya
sungguh aku merindukan nya
belum api itu ku berikan padanya
tapi kau sudah membawa nya
sungguh aku merindukan nya
selamat jalan yaa ,love you ^^
Kenapa Harus Ada Cinta
Aku gak pernah mengerti akan takdir,
kenapa ia mempertemukan kita, dan kenapa ia membuatku terluka . . ,
ntah apa yang membuatku tak berhenti memikirkannya,
seseorang yang selalu membuatku nyaman, dan sadar akan garis hidup!
Dia datang saat aku butuh sandaran, namun dia pergi di saat aku ingin dia tinggal,
kenapa ia mempertemukan kita, dan kenapa ia membuatku terluka . . ,
ntah apa yang membuatku tak berhenti memikirkannya,
seseorang yang selalu membuatku nyaman, dan sadar akan garis hidup!
Dia datang saat aku butuh sandaran, namun dia pergi di saat aku ingin dia tinggal,
kenapa harus ada cinta, jikalau harus ada terluka,
aku berharap hujan terus turun, agar ia bisa menghapus tangis di pipiku . . ,
aku berharap, matahari akan terbenam saat dia datang kembali . .,
andai waktu bisa terulang, aku ingin takdir tak mempertemukan kami,
aku berharap hujan terus turun, agar ia bisa menghapus tangis di pipiku . . ,
aku berharap, matahari akan terbenam saat dia datang kembali . .,
andai waktu bisa terulang, aku ingin takdir tak mempertemukan kami,
ntah ini cinta atau sakit, tapi inilah yang aku rasakan,
tapi aku tak peduli dengan apa yang terjadi,
di setiap hembusan nafasku,
di setiap itu pula aku selalu berdo’a untuk kebahagiaannya . .
Tak peduli dengan waktu yang terus berjalan,
di setiap detak jantungku, disetiap itu pula aku selalu berdo’a untuk keselamatannya . .
tapi aku tak peduli dengan apa yang terjadi,
di setiap hembusan nafasku,
di setiap itu pula aku selalu berdo’a untuk kebahagiaannya . .
Tak peduli dengan waktu yang terus berjalan,
di setiap detak jantungku, disetiap itu pula aku selalu berdo’a untuk keselamatannya . .
Aku ingin dia tahu .
Langganan:
Postingan (Atom)